PENGALAMAN KELUARGA DALAM MERAWAT LANSIA YANG MENGALAMI ALZHEIMER DI KOTA BANDUNG

0
2703

PENGALAMAN KELUARGA DALAM MERAWAT LANSIA YANG MENGALAMI ALZHEIMER DI KOTA BANDUNG

 Asri Handayani Solihin, Ardini S. Raksanagara, Kusman Ibrahim

Universitas Padjadjaran

 ABSTRAK

 

Pengalaman merawat lansia yang mengalami Alzheimer merupakan sebuah pengalaman yang menarik dengan segala dinamika yang dihadapinya. Keluarga dapat mengalami masalah fisik maupun psikologis. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan gambaran yang mendalam mengenai pengalaman keluarga merawat lansia yang mengalami Alzheimer.Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Wawancara mendalam dilakukan terhadap 6 partisipan, yaitu anak atau pasangan yang merawat langsung lansia dengan Alzheimer. Penentuan partisipan menggunakan teknik purposif dan snowball sampling. Analisis data menggunakan pendekatan Colaizi.Hasil penelitian diperoleh 5 tema yaitu perubahan perilaku lansia dan dampaknya terhadap keluarga, keluarga memiliki kemampuan yang terbatas dalam merawat lansia, keluarga merasa khawatir terhadap perawatan lanjutan, menemukan cara merawat anggota keluarga yang mengalami Alzheimer, makna merawat sebagai bentuk tanggungjawab sosial dan agama.Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk meningkatkan pelayanan keperawatan komunitas melalui penyuluhan dan kunjungan rumah, melakukan deteksi dini dan melakukan terapi kognitif untuk pencegahan demensia.

 

Kata Kunci: Alzheimer, Lansia, Merawat, Pengalaman Hidup.

 

ABSTRACT

 

The experience of caring for the elderly with Alzheimer has drawn public interests with all dynamics that it has. The family may be experience physical and psychological problem. The aim of this study is to describe a deep understanding of the families’ experiences in caring for the elderly with Alzheimer.This research employs a qualitative method with phenomenological approach. The data are collected through indepth interviews with 6 informants. Purposive and snowball samplings are deployed to determine the informants. The data are then analysed used Colaizi approach.There are five main themes was obtained in this research: 1) changes in the behavior of the elderly with Alzheimer and their impacts on the family, limited skills owned by the families in caring for the elderly with Alzheimer, the worries of required further treatments, find way to caring elderly with Alzheimer, meaning of caring the elderly with Alzheimer as social and religious responsibilities.

The results of this study are expected to be a reference to improve community nursing services by means of health education and home visit, and also early detection and doing cognitive therapy to prevent dementia.

 

Keywords: Alzheimer, Caring, Elderly, Family Caregiver, Lived Experience.

 

PENDAHULUAN

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pengalaman peneliti sendiri yang memiliki lansia yang menderita stroke dan mulai menampakkan gejala demensia. Peneliti juga melakukan studi pendahuluan terhadap beberapa keluarga yang merawat lansia dengan Alzheimer. Pengalaman yang disampaikan sangat menarik, dimana keluarga mengalami berbagai perubahan baik secara fisik maupun psikologis. Merawat lansia dengan Alzheimer juga dapat menimbulkan konflik dalam sebuah keluarga, namun adanya nilai-nilai keluarga di Indonesia yang cenderung menghindari konflik juga dapat menyebabkan anggota keluarga menjadi stres.

Hal yang penting untuk diperhatikan adalah bahwa keluarga memerlukan dukungan baik secara emosional, informasi dan pelatihan praktis tentang cara mengatasi masalah yang dihadapi, karena merawat lansia dengan Alzheimer cukup melelahkan, terlebih jika terjadi gangguan tidur pada malam hari dan adanya kelainan tingkah laku berupa ketidakpatuhan dan menjadi lebih “galak” (hostile) (Mayo Clinic Health Oasis, 1998, dalam Sidiarto, 1999). Keluarga perlu belajar sabar, namun jangan lupa bahwa keluarga juga perlu memperhatikan kesehatan pribadi, perlu waktu untuk beristirahat dan melakukan sosialisasi untuk berbagi pengalaman (Sidiarto, 1999).

Salah satu peran keluarga dalam merawat lansia (Mubarak dkk, 2011) yaitu menjaga dan merawat kondisi fisik dan mental lansia agar tetap dalam keadaan optimal, keluarga diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk dapat merawat lansia, terutama lansia yang memiliki penyakit seperti Alzheimer. Keluarga yang memiliki lansia penderita Alzheimer seringkali menganggap bahwa hal tersebut biasa terjadi pada lansia sehingga tidak perlu melakukan pemeriksaan ke pelayanan kesehatan dan biasa merawat di rumah seperti pada umumnya. Berdasarkan hal tersebut, perawat komunitas perlu untuk menggali lebih dalam pengalaman keluarga dalam merawat lansia dengan Alzheimer,sehingga data yang diperoleh diharapkan dapat menjadi masukan yang berharga bagi perawat komunitas untuk dapat memberikan informasi dan dukungan bagi keluarga mengenai cara merawat lansia dengan Alzheimer.

Berdasarkan uraian di atas penelitian ini bertujuan untuk mengungkap secara mendalam mengenai pengalaman anggota keluarga dalam merawat lansia dengan Alzheimer.

 

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif fenomenologi. Deskriptif fenomenologi menuntut pada gambaran yang teliti dari pengalaman yang biasa dialami sehari-hari, gambaran dari berbagai hal sebagaimana yang dialami oleh orang-orang (Polit & Beck, 2006). Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kota Bandung, dengan jumlah lansia berusia di atas 60 tahun menurut data BPS Kota Bandung Tahun 20120 diperkirakan mencapai 155.078 (Profil Dinkes Kota Bandung, 2010). Lansia tersebut dirawat oleh keluarga di rumah. Informan sebanyak 6 orang adalah pasangan atau anak perempuan lansia yang mengalami Alzheimer. Teknik pengambilan sampel dengan teknik purposif dan snowball sampling (Bungin, 2008).

Metode pengumpulan data dengan wawancara mendalam yang direkam menggunakan alat perekam.Wawancara dilakukan secara perorangan, diawali dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan dari wawancara serta membuat persetujuan (informed consent). Selanjutnya pertanyaan mengenai identitas informan dan pertanyaan yang bersifat luas yaitu “Bagaimana pengalaman keluarga selama merawat lansia dengan Alzheimer?” Wawancara selama satu jan dan dilakukan sampai sebanyak 2-3 kali.

Pada penelitian ini, analisis data yang digunakan adalah analisis data menurut Colaizi (Polit & Beck, 2006). Pertama kali peneliti membaca seluruh transkrip yang telah dibuat untuk dapat merasakan apa yang disampaikan informan, meninjau kembali setiap transkrip dan mencari pernyataan-pernyataan yang penting atau berarti, merumuskan makna dari setiap pernyataan yang penting atau berarti, membuat kelompok tema, membuat deskripsi tema, mengilustrasikan sesuai pernyataan informan dengan jelas dan melakukan validasi akhir.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil wawancara terhadap 6 orang informan, diperoleh 5 tema besar yang berkaitan dengan pengalaman keluarga merawat, antara lain adalah:

 

Perubahan pada Lansia dan Dampaknya terhadap Keluarga

Tidak semua lansia yang menderita Alzheimer memperlihatkan perubahan perilaku pada awal gejala penyakit, namun ketika masalah perilaku tersebut terjadi, maka akan menyebabkan stres bagi keluarga. Hampir semua informan mengeluhkan adanya perubahan pada lansia seperti sering mengulang pertanyaan, tidak mau mandi, tidak mau mengganti pakaian, menentang, hanya tertarik pada satu hal, mudah marah, keluyuran, perilaku kasar. Keluarga merasakan hal tersebut sebagai tantangan yang harus dihadapi untuk dapat mengatasinya. Berikut salah satu pernyataan informan mengenai salah satu perubahan perilaku pada lansia:

“..kalo mau sholat, kalo mau ganti baju susah, mandi susah, ga mau mandi, sikat gigi, (sambil berbisik). Mandi ga mau, ganti baju harus dipaksa, saya bilang “itu kan bau nanti orang gimana?” Dia jawab :”ga ko ga bau”.. tapi kalo saya lagi males ya udah pergi-pergi aja lah. Untuk tidur untuk solat untuk pergi ga mau ganti, dulu tuh paling rajin kalo untuk sholat sholat saja, untuk tidur, tidur saja, pergi-pergi aja, olahraga-olahraga aja. Ini baju ini dari kemaren nih, suruh ganti ga mau dia, ya udah lah daripada terlambat saya.” (I-1)

 

Berdasarkan hasil wawancara, beberapa dampak yang dirasakan oleh anggota keluarga yang merawat yaitu gangguan tidur, kelelahan, perasaan ambigu dalam menghadapi perubahan pada lansia, ancaman konflik dalam keluarga serta perubahan peran. Berikut salah satu pernyataan informan:

“Iya tuh..kalau malam-malam kan suka pengen kencing ya..pasti bangunin kita..ya daripada nanti ada apa-apa ya udah kan kepaksa kita bangun…”

 

 

Perasaan ambigu seringkali dirasakan oleh keluarga yang merawat lansia dengan Alzheimer. Perasaan kesal, marah, sedih, sayang, merasa bersalah bercampur menjadi satu ketika melihat orang yang kita cintai mengalami perubahan.

“Sedih sih ya pasti, merasa bersalah juga. Karena sebelumya ibu kan di Garut ya, jarang nengok jadi dibawa ke sini aja. Jadi waktu untuk ngerawat kan terbatas dulu.Kalosekarang ya malah makin sayang ya, soalnya ibu tuh dari dulu kan single fighter ya jadi lebih sayang aja”

 

Konflik dalam keluarga dapat timbul ketika menghadapi perubahan perilaku pada lansia dengan Alzheimer. Konflik dapat terjadi dengan penderita Alzheimer itu sendiri ataupun dengan anggota keluarga yang lain. Konflik dengan penderita biasanya disebabkan karena keluarga pada awalnya tidak mengetahui bahwa perubahan perilaku lansia tersebut merupakan suatu gejala dari penyakit Alzheimer yang dideritanya.

“…karena perilakunya sudah mulai berubah lagi ya, menentang dia, …. Apapun, bicara apapun gitu. Jadi kalo mau pergi juga begitu, ini mau kemana, kesini, ah ngga kesana aja. jadi begitu, saran saya itu selalu bertentangan terus. Saya kan waktu itu tidak ngerti ya, waah..ribut terus soal yang kecil aja.

 

Kemampuan Keluarga yang Terbatas dalam Merawat Lansia

Merawat lansia dengan Alzheimer membutuhkan ilmu dan keterampilan khusus, terutama dalam menghadapi perubahan perilakunya. Pada tema ini peneliti memperoleh 2 sub tema yaitu pemahaman yang terbatas mengenai penyakit Alzheimer dan tidak adanya perawatan khusus yang dilakukan keluarga.

Keluarga memiliki pemahaman yang terbatas mengenai penyakit ini, semua informan mengatakan bahwa pikun hal yang biasa pada lansia. Berikut salah satu pernyataan informan:

“Pelupa ya, faktor usia biasanya pada lansia, hampir semua ya, satu dua aja yang ngga ya” (I-2)

 

Semua informan mengatakan tidak melakukan perawatan secara khusus dalam menangani lansia dengan Alzheimer. Perawatan yang dilakukan selama ini hanya sekedar memenuhi kebutuhan dasar lansia seperti makan, minum dan mandi, sedangkan untuk perilaku, keluarga tidak mengetahuinya.

“Tidak ada lagi perawatan khusus selain berobat. Kalo mandi ya pakai air hangat, baju disiapkan, makan teratur ….kalo berkomunikasi lancar tapi mungkin ada salah-salahnya, diemin aja..kalo ditegur takut nanti ga mau, kalo diingetin takut ga mau komunikasi kan..jadi rendah diri kan, ya biarin aja..orang kan ga tau kan.”

 

Keluarga Merasa Khawatir terhadap Perawatan Lanjutan

Suami atau istri yang memiliki pasangan penderita Alzheimer akan mengalami kekhawatiran ketika memikirkan siapa yang akan merawat pasangannya tersebut jika mereka sudah tidak ada. Kekhawatiran tersebut terjadi ketika dukungan dari anak-anak selama ini dirasakan kurang dalam melakukan perawatan pada orangtuanya secara langsung.

“Saya sedang pikir sekarang bagaimana kalo saya dipanggil duluan oleh Tuhan, apa anak-anak saya sanggup. Anak sekarang kan urusannya beda ya..”

 

Menemukan Cara dalam Merawat Anggota Keluarga yang Mengalami Alzheimer

Keluarga yang memiliki lansia dengan Alzheimer mengalami berbagai kendala dalam merawat, untuk mengatasi kendala tersebut keluarga berusaha untuk mencari cara dalam merawat anggota keluarga yang mengalami Alzheimer, yaitu dengan meningkatkan keyakinan spiritual, menambah informasi, mengupayakan dukungan keluarga dan menerima keadaan.

Semua informan dalam penelitian ini beragama Islam, sehingga dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi ketika merawat lansia, seluruh informan berusaha untuk meningkatkan keyakinan spiritualnya. Upaya tersebut dilakukan dengan berbagai macam cara, misalnya dengan berdoa dan mendalami Al-Qur’an, berkonsultasi dengan ulama, dan hadits.

“…akhirnya saya juga kan banyak kenalan ustad ya, saya minta saran sana, ya intinya ustad itu mengatakan” pokonya bapak A, pahala itu di depan matanya, tinggal diraih, Ya saya selalu berdoanya gitu lah “ya Tuhan kami berilah kami petunjuk Mu dan jalan juga para dokter yang ngobatin kami untuk dapat mengetahui penyakitnya dan obatnya, karena Engkaulah Yang Maha Mengetahui. Itu aja setiap sholat wajib saya berdoa itu”

 

Meningkatkan pengetahuan mengenai penyakit yang diderita oleh lansia dapat bermanfaat untuk menambah wawasan yang dapat diterapkan oleh keluarga selama merawat lansia. Informasi dapat diperoleh melalui berbagai macam cara antara lain berbagi informasi melalui seminar atau berbagi dengan teman yang memiliki pengalaman yang sama, juga dengan membaca artikel-artikel.

“Saya suka sharing juga sama orang yang ngerawat lansia yang sama ya..ternyata masalahnya sama juga, suka lupa makan teh udah apa belum. Ya suka ngobrol-ngobrol gitu.Dengan sharing itu ya terbantu ya berarti ya semua sama lah masalahnya jadi harus sabar gitu kan”

 

Keluarga sangat memerlukan dukungan keluarga untuk dapat merawat lansia dengan maksimal. Dukungan tersebut dapat diberikan dalam berbagai macam bentuk, misalnya berbagi tugas atau hanya sekedar menengok.

“Ya kalo ibu ada kesel sama satu anak terus cerita ke anak yang lain ya anak yang lain coba mengalihkan. Ya kalo lagi kesel sama adik, ya kita yang ini in. Karena kan gampang kesel gampang sensitif, jadi kitanya yang harus ngertiin, harus ekstra sabar gitu kan. Jadi saling back up aja.Ya itu, kalo hari kerja dipegang sama adik-adik, kalo sore saya yang pegang atau ya kalo hari libur saya yang mandiin.Ya pokonya itu lah, bagi-bagi waktu aja. Kalo misalnya adik pengen main ya berarti saya yang jaga.”

 

Bagi keluarga, menerima keadaan kondisi lansia merupakan hal yang bisa membantu mengurangi stres. Keluarga membutuhkan waktu untuk dapat beradaptasi dengan kondisi lansia hingga dapat mencapai kondisi menerima dan pasrah atau bagi beberapa informan menyebutnya sebagai sabar dan ikhlas.

“..menerima kenyataan jadi kalo sudah kenyataan kita ga bisa diapa-apain lagi..sudah sabar itu..jadi kalo kita sudah menerima kenyataan itu pasti sabar lah..”

 

Makna Merawat sebagai Bentuk Tanggungjawab Sosial dan Agama

Bagi keluarga, merawat lansia dengan Alzheimer memiliki makna tersendiri. Mereka dihadapkan pada kondisi dimana orang yang mereka cintai sudah mulai mengalami perubahan, banyak hal yang dapat dipelajari. Berdasarkan hasil wawancara, diperoleh satu tema yang berkaitan dengan makna merawat, tema tersebut adalah tanggung jawab secara sosial dan agama.

“Bentuk berbakti aja sama orang tua, da udah kewajiban kita ya waktu kecil kan ibu juga ngerawat kita, apalagi sendirian dulu dari kecil ga ada suami, udah meninggal dari saya umur 5 tahun”

 

Tanggung jawab perawatan orang tua di masyarakat seringkali dibebankan kepada anak perempuan. Masyarakat kita, secara sosial meyakini bahwa anak perempuan dianggap lebih mampu merawat orang tua dibandingkan anak laki-laki.

“Kakak saya kan laki-laki semua, yang perempuan cuma saya sama adik saya, jadi kan ibu juga ga mau kalau dirawat sama menantu mah kan beda ya”

 

Pembahasan

Lansia penderita Alzheimer dapat menunjukkan perubahan perilaku akibat dari penyakitnya tersebut. Beberapa perubahan perilaku dapat mengganggu kehidupan sehari-hari baik bagi lansia tersebut maupun bagi keluarga yang merawatnya. Semua informan merasakan adanya perubahan perilaku yang ditunjukkan lansia. Perubahan perilaku tersebut pada awalnya tidak disadari oleh keluarga sampai muncul perilaku yang cukup mengganggu. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Paton, Johnston, Katona & Livingston (2004) para caregiver melaporkan beberapa gangguan perilaku yang menimbulkan masalah antara lain kehilangan fungsi intelektual, kehilangan memori, gangguan koordinasi dan gangguan kepribadian. Gejala awal dari Alzheimer adalah mudah lupa akan kejadian yang baru terjadi atau terhadap informasi baru, disorientasi terhadap tempat dan atau aspek dari seseorang (misal umur), tidak mampu mengenali waktu dan masalah dengan perawatan diri (contohnya lupa mengganti baju) (Rolak, 2005). Hal tersebut dikeluhkan oleh semua informan. Keluarga pendamping lansia yang menderita Alzheimer harus selalu ingat bahwa perilaku orang dengan demensia terjadi karena keterbatasan fungsi otak dalam mempersepsikan kejadian di sekelilingnya dan kesulitan berbahasa untuk mengungkapkan isi pikirannya secara utuh (Nasrun, 2012).

Keluarga merupakan satu unit yang terdiri dari berbagai bagian yang berbeda, perubahan pada satu bagian akan menyebabkan perubahan pada bagian lainnya (Stanley & Beare, 2007), oleh karena itu, jika ada salah satu anggota keluarga sakit, maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga yang lain. Keluarga cenderung menjadi reaktor terhadap masalah kesehatan dan menjadi faktor dalam menentukan masalah kesehatan anggota keluarga ( Gillis dkk, 1989 dalam Ali (2010). Perubahan yang dirasakan keluarga antara lain perubahan fisik, psikososial dan peran. Hal tersebut sesuai dengan teori, bahwa beberapa penelitian telah membuktikan merawat anggota keluarga yang memiliki penyakit kronis dalam waktu lama akan menimbulkan konsekuensi negatif terhadap kondisi fisik seperti gangguan tidur (Lueckenotte, 2000, Ferrara, et al, 2008; McCurry, et al, 2009), lelah dan lesu (Ferrara, et al, 2008; Shaji, et al, 2003); psikologis (Gruffydd & Randle, 2006; Schulz & Martire, 2004; Lueckenotte, 2000); masalah finansial, pekerjaan dan konflik dalam keluarga itu sendiri (Sanders, et al, 2008; Ferrara, et al, 2008; Shaji, et al, 2003; Vellone, Sansoni & Cohen, 2004; Lueckenotte, 2000; Nasrun, 2012).

Perawat komunitas dapat melakukan intervensi berupa konseling, memberikan dukungan emosional dan memberdayakan sumber yang ada di masyarakat, yang mana semua itu dapat meningkatkan kesejahteraan dan hubungan perawatan yang positif bagi pelaku rawat dan lansia yang dirawatnya (Melillo & Houde, 2011).

            Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa keluarga memiliki pemahaman yang terbatas mengenai penyakit Alzheimer. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Shaji et al. (2003) bahwa pelaku rawat dan keluarga memiliki pemahaman yang terbatas mengenai penyakit dan penyebabnya. Merawat lansia dengan Alzheimer membutuhkan keterampilan yang khusus. Perawatan yang dilakukan tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari dari lansia tersebut, tetapi juga harus memperhatikan perubahan perilaku yang dialami. Semua informan mengatakan bahwa mereka tidak melakukan perawatan khusus untuk menangani gangguan perilakunya, selama ini hanya memenuhi kebutuhan dasarnya saja. Kesulitan dalam merawat penderita Alzheimer juga dilaporkan pada penelitian yang dilakukan oleh Vellone, Sansoni & Cohen (2004).

Manajemen perilaku adalah komponen yang sangat penting untuk mengurangi ketidakmampuan pada penyakit Alzheimer. Gangguan memori, perubahan kognitif dan perilaku yang mengganggu pada pasien Alzheimer merupakan aspek yang sulit untuk diberikan perawatan (Logsdon, McCurry & Terry, 2005). Penyakit Alzheimer adalah penyakit yang bersifat progresif sehingga semakin lama kondisinya akan semakin memburuk. Keluarga harus memikirkan perawatan lanjutan bagi lansia tersebut. Beberapa informan merasakan kekhawatiran terhadap kondisi ke depannya. Dalam suatu penelitian di Italia disebutkan bahwa keluarga merasakan ketakutan terhadap masa depan bagi keluarga dan penderita Alzheimer (Vellone, Sansoni & Cohen, 2004).

Informan mengupayakan suatu tindakan psikologis atau perilaku untuk dapat mengatasi, beradaptasi atau mengurangi dampak dari kondisi yang menyebabkan stres (Cooper, et al, 2008). Pada penelitian ini, beberapa strategi yang dilakukan oleh informan antara lain dengan meningkatkan keyakinan spiritual (Sanders et al., 2008), menambah informasi, mengupayakan dukungan keluarga (Nasrun, 2012) dan menerima keadaan.

Merawat adalah suatu tindakan memberikan bantuan kepada seseorang yang tidak mampu dilakukan oleh dirinya sendiri. Perubahan perilaku dan gangguan dalam komunikasi pada pasien Alzheimer menjadikan perawatan sebagai situasi yang menantang (Ebersole et al, 2005). Informan memaknai merawat lansia dalam ungkapan yang berbeda-beda, namun pada intinya merawat itu sebagai suatu bentuk tanggung jawab baik secara sosial maupun agama.

 

SIMPULAN DAN SARAN

Merawat lansia dengan Alzheimer merupakan sebuah pengalaman yang menarik. Perubahan perilaku pada lansia sebagai gejala dari penyakit Alzheimer dapat berdampak kepada keluarga. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam merawat menyebabkan keluarga khawatir terhadap perawatan lanjutan. Pada akhirnya keluarga memaknai bahwa merawat merupakan bentuk tanggungjawab sosial dan agama.

Bagi penelitian lanjutan disarankan untuk dapat meneliti mengenai kualitas hidup keluarga yang merawat lansia yang mengalami demensia Alzheimer juga penelitian mengenai intervensi terapi modalitas bagi lansia yang mengalami Alzheimer dan keluarga yang merawatnya. Bagi perawat kesehatan lansia yang berada di Puskesmas untuk dapat melakukan penyuluhan, deteksi dini untuk demensia dan kegiatan terapi kognitif pada saat kegiatan Posbindu. Bagi perawat Perkesmas, disarankan untuk dapat menggiatkan kunjungan rumah kepada keluarga yang memiliki lansia dengan Alzheimer.

Bagi Asosiasi Alzheimer Indonesia Wilayah Jawa Barat diharapkan untuk dapat memperluas jangkauan penyebaran informasi melalui media elektronik dan bekerjasama dengan instansi terkait misalnya dengan puskesmas, panti lansia, organisasi lansia, membentuk kegiatan family meeting secara rutin sebagai bentuk dukungan sosial yang diperuntukkan bagi keluarga untuk dapat berbagi pengalaman dan informasi.

 

UCAPAN TERIMAKASIH

Peneliti mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada tim pembimbing Dr. Hj Ardini S. Raksanagara dan Kusman Ibrahim, MNS. PhD., juga kepada tim penguji, keluarga dan semua pihak yang terlibat dalam penelitian ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Z. (2010). Pengantar Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC

 

Bungin, B. (2008). Analisis Data Penelitian Kualitatif. Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

 

Cooper, C., Katona, C., Orrel, M., & Livingston, G. (2008). Coping strategies, anxiety and depression in caregivers of people with Alzheimer’s disease. International Journal of geriatric Psychiatry, 23, 929-936. Doi 10.1002/gps.2007. Diunduh 3 Oktober 2011, dari http://web.ebscohost.com/ehost/pdfviewer

 

Dinkes Kota Bandung. (2010). Profil Dinas Kesehatan Kota Bandung.

 

Ferrara, M., Langiano, E., Brango, T.D., Vito, E.D., Cioccio, L.D., & Bauco, C. (2008). Prevalence of stress, anxiety and depression in with Alzheimer caregivers. Health and Quality of Life Outcomes, 6, 93. doi: 10.1186/1477-7525-6-93. Diunduh 4 Oktober, 2011, dari http://web.ebscohost.com/ehost/pdfviewer

 

Gruffydd, E. & Randle, J. (2006). Alzheimer’s disease and the psychosocial burden for caregivers. Community Practitioner. 79 (1). 15-18(4). Diunduh 15 Juni, 2012, dari http://www.ingentaconnect.com

 

Logsdon, R.G., McCurry, S.M. & Teri, L. (2005). A Home Health Care Approach to Exercise for Persons With Alzheimer’s Disease. Care Management Journals. 6(2). Diunduh 3 Oktober 2011, dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov

Lueckenotte, A.G.(2000). Gerontologic Nursing. St.Louis: Mosby

McCurry, et al. (2009). Insomnia in Caregivers of Persons with Dementia: Who is at Risk and What Can be Done About it?. Sleep Med Clin. 4(2009). 519-526. Doi: 10.1016/j.jsmc.2009.07.005. Diunduh 15 Juni 2012, dari http://faculty.washington.edu

 

Melillo, K.D. & Houde, S.C. (2011). Geropsychiatric and Mental Helath Nursing. Sudbury: Jones & Barlett Learning

Mubarak, W.I., Chayatin, N., Santoso, B.A. (2011). Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika

 

Nasrun, M.W.S. (2012). Strategi Mendampingi Orang dengan Demensia. Jakarta: Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

 

Paton, J., Johnston, K., Katona, C. & Livingston, G. (2004). What causes problems in Alzheimer’s disease: attributions by caregivers. A qualitative study. International Journal of Geriatric Psychiatry, 19, 527-532. Doi 10.1002/gps;1118. Diunduh 2 Mei, 2012, dari www.interscience.wiley.com

 

Polit, D.F & Beck, C.T. (2006). Essentials of Nursing Research. Methods, Appraisal, and Utilization. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins

 

Rolak, L.A., (2005). Neurology Secrets. Fourth Edition. Philadelphia: Elsevier Inc.

 

Sanders,S., Ott, C.H., Kelber, S.T., & Noonan, P. (2008). The Experience of high levels in caregivers of persons with Alzheimer’s disease and related dementia. Death Studies, 32, 495-523. doi: 10.1080/07481180802138845. Diunduh 20 September, 2011, dari http://web.ebscohost.com/ehost/pdfviewer

 

Schulz, R. & Martire, L. (2004). Family Caregiving of Persons With Dementia: Prevalence, Health Effects, and Support Strategies. American Journal of Geriatric Psychiatry: May/June 2004 – Volume 12 – Issue 3 – p 240-249. Diunduh 16 Juni 2012, dari http://journals.lww.com

Shaji, K.S., Smitha, K., Lal, K.P., & Prince, M.J. (2003). Caregivers of people with Alzheimer’s disease: a qualitative study from the Indian 10/66 Dementia Research Network. International Journal of Geriatric Psychiatry, 18, 1-6. doi: 10.1002/gps.649. Diunduh 3 Oktober, 2011, dari

http://web.ebscohost.com/ehost/pdfviewer

 

Sidiarto, (1999). Tatalaksana dan Sistem Asuhan pada Penyakit Alzheimer/Demensia. Jurnal Berkala Neuro Sains, 1(I). Diunduh 3 Oktober, 2011 dari http://i-lib.ugm.ac.id

 

Stanley, M. & Beare, P.G. (2007). Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC

 

Vellone, E., Sansoni, J. & Cohen, M.Z. (2004). The Experience of Italians caring for Family Members with Alzheimer’s Disease. Journal of Nursing Scholarship. 34 (4), 323-329. Doi: 10.1111/j.1547-5069.2002.00323.x. Diunduh 15 Juni, 2012, dari http://onlinelibrary.wiley.com

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here