KOPING PADA PASIEN PENDERITA KUSTA

0
1795
Kipas dengan cetakan berisi pesan tentang bercak kusta dan apa yang perlu dilakukan jika ditemukan ditunjukkan pada Jumat (29/1), di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta. Kemenkes menargetkan seluruh provinsi di Indonesia mencapai status eliminasi kusta pada 2019, yang saat ini baru tercapai di 21 provinsi. Kompas/Johanes Galuh Bimantara (JOG) 29-01-2016

ABSTRAK

Kusta merupakan penyakit infeksi kronik dan penyebabnya ialah Mycobacterium Leprae. Penyakit kusta bukan hanya penyakit yang menyerang fifik seseorang tetapi merupakan masalah bagi kejiwaan, mental dan sosial bagi penderitanya. Penderita kusta akan merasa rendah diri, merasa tertekan batin, takut menghadapi keluarga dan masyarakat. Kebanyakan penderita kusta mengalami perubahan body image, sehingga koping individu mungkin saja tidak efektif.

 

PENDAHULUAN

World Healt Organitation (2006) melaporkan 115 negara teritori yang terdaftar dengan prevalensi kusta 219.826 kasus. Di Indonesia, jumlah penderita kusta dengan frekuensi tertinggi adalah di Provinsi Jawa Timur yaitu mencapai 4 per 10.000 penduduk. Di Provinsi Jawa Barat mencapai 3 per 10.000 penduduk.

Kusta merupakan penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae yang bersifat intraseluler obligat. Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan masalah yang kompleks oleh karena adanya ulserasi, mutilasi dan deformitas sehingga menimbulkan banyak permasalahan, bukan saja dari segi medis atau kesehatan tetapi juga dari segi mental, sosial, psikologis dan ekonomi bagi pasien sehingga memerlukan penanganan yang serius.

Dari sekian banyak permasalahan yang muncul masalah psikologis merupakan masalah yang paling serius bagi penderita kusta. Dengan kondisi kesehatan yang demikian akan menjadi sumber strssor bagi pasien, sehingga dapat mempengaruhi konsep dirinya, begitu pula dengan kecacatan yang timbul dari penyakit ini akan mempengaruhi citra tubuh (body image).

Dalam menghadapi permasalahan tersebut diperlukan koping efektif dari pasien. Dengan mekanisme yang positif diharapkan pasien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki, menilai kemampuan diri yang dapat digunakan, membuat rencana sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, melaksanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.

Berkaitan dengan masalah ini maka salah satu fungsi perawat sebagai konselor diharapkan mampu membantu permasalahan klien. Perawat dapat memberikan dorongan dan motivasi kepada klien ke arah pemecahan masalah. Dukungan perawat diharapkan dapat meningkatkan rasa percaya diri pada klien, sehingga klien mampu menerima keadaan tubuhnya sesuai dengan kondisi yanf terjadi.

 

Tinjauan Umum Koping

Koping adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam upaya mengatasi tuntutan internal atau eksternal khusus yang membatasi seseorang. Koping dapat didiskripsikan sebagai keberhasilan menghadapi atau menangani masalah dan situasi. Strategi koping (mekanisme koping) adalah cara merespon bawaan atau dapatan terhadap perubahan lingkungan atau masalah atau situasi tertentu.

Strategi koping yaitu ;

  1. Koping yang berfokus pada masalah, mengacu pada upaya memperbaiki situasi dengan membuat perubahan atau mengambil beberapa tindakan.
  2. Koping yang berfokus pada emosi, mencakup pikiran atau tindakan yang meredakan distress emosi. Koping yang berfokus pada emosi tidak memperbaiki situasi, tetapi setelah menggunakannya, individu sering kali merasa baik.

 

Strategi koping bervariasi diantara individu dan sering kali berhubungan dengan persepsi individu terhadap kejadian yang menimbulkan stress. Tiga pendekatan untuk koping terhadap stress adalah mengubah stressor, beradaptasi dengan stressor, atau menghindari stressor. Strategi koping individu sering kali berubah dengan penilaian kembali terhadap situasi. Tidak ada satu cara yang paling tepat untuk berkoping. Beberapa orang memilih untuk menghindar, yang lainnya berhadapan dengan situasi sebagai koping strategi koping. Sementara yang lainnya lagi mencari informasi atau bergantung pada keyakinan agama sebagai strategi koping.

Jenis Koping ;

  1. Koping adaptif, membantu individu menghadapi kejadian yang menimbulkan stress dan meminimalkan distress yang diakibatkan secara efektif
  2. Koping maladaptif, mengakibatkan distres yang tidak seharusnya bagi individu dan orang lain yang berhubungan dengan individu tersebut atau kejadian yang menimbulkan stress.

 

Dalam literatur keperawatan, koping efektif dan tidak efektif sering kali dibedakan. Koping efektif menimbulkan adaptasi; koping tidak efektif menimbulkan maladapsi. Meskipun perilaku koping tidak selalu tampak sesuai, perawat perlu mengingat bahwa koping selalu bertujuan. Efektivitas koping individu dopengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk : 1) jumlah, durasi dan intensitas stressor, 2) pengalaman masa lalu individu, 3) system pendukung yang tersedia untuk individu, 4) kualitas personal individu.

 

 

Cara Mengkaji Koping Melalui Aspek Psikososial

Koping dapat dikaji melalui beberapa aspek, salah satunya adalah aspek psikologis, yaitu Reaksi Orientasi, tugas berorientasi terhadap tindakan untuk memenuhi tuntutan dari situasi stress secara realistis, dapat berupa konstruktif atau destruktif.

Konstruktif artinya bersifat membangun atau memperbaiki, sedangkan destruktif artinya bersifat merusak atau menghancurkan. Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa mekanisme koping yang konstruktif artinya upaya yang dilakukan untuk penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi, membangun atau memperbaiki diri seseorang.

Mekanisme koping yang destruktif artinya upaya yang dilakukan seseorang dalam menghadapi stress termasuk upaya penyelesaian masalah tetapi sifatnya tidak untuk memperbaiki kondisi dirinya, akan tetapi lebih kearah hal-hal yang merugikan dirinya sendiri

 

Konsep Penyakit Kusta

Kusta merupakan penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae. Terdapat tiga tanda cardinal, apabila salah satunya ada sudah cukup untuk menetapkan diagnosis dari penyakit kusta, antara lain ;

  1. Lesi kulit yang anestesi, makula atau plakat dengan hilangnya rasa raba, rasa sakit atau suhu yang jelas. Kelainan lain pada kulit yang spesifik berupa perubahan warna atau lesi hipopigmentasi, adanya eritem dan tekstur kulit serta kelainan pertumbuhan rambut.
  1. KustaPenebalan saraf perifer, sangat jarang ditemukan kecuali pada pesien penderita kusta. Pada daerah endemik kusta temuan adanya penebalan saraf perifer dapat dipakai untuk menegakan diagnosis
  2. Ditemukan Mycrobacterium Leprae,terutama pada kulit, mukosa hidung, dab saraf perifer yang superfisial dan dapat ditunjukkan dengan apusan sayatan kulit atau kerokan mukosa hidung.

Cara penularan penyakit kusta belum diketahui secara pasti, tetapi menurut sebagian para ahli mengatakan melalui kulit atau kontak langsung yang lama dan melalui saluran pernapasan atau inhalasi sebab Mycrobacterium Leprae masih dapat hidup beberapa hari dalam droplet. Kuman mencapai permukaan kulit melalui foliker rambut, kelenjar keringat dan diduga juga melalui air susu ibu, jarang ditemukan dalam urin.

Penyakit kusta dapat menimbulkan kecacatan pada penderitanya yang akan mempengaruhi bodyimage apabila koping individu pasien maladaptif. Pada prinsipnya cacat pada penyakit kusta dapat timbul secara primer atau sekunder :

  1. Cacat Primer, disebabkan langsung oleh aktivitas penyakitnya sendiri, yang meliputi kerusakan akibat respon jaringan terhadap kuman penyebab. Adapun patofisiologinya sebagai berikut : Pada penderita kusta, kuman-kuman akan menginvasi aliran darah sehingga memungkinkan terjadinya penyebarab pada hampir seluruh tubuh.
  2. Cacat Sekunder, cacat yang tidak langsung disebabkan oleh penyakitnya sendiri, tetapi diakibatkan oleh adanya anastesi dan paralise dari motorik. Adapun patofisiologi terjadinya cacat sekunder dapat dijelaskan sebagai berikut : kerusakan pada saraf meliputi anastesi akibat kerusakan saraf sensori, yang pada dasarnya kehilangan rasa nyeri dan rasa suhu, maka penderita akan gagal menghindari terhadap trauma terutama pada kaki dan tangan. Keadaan ini pada akhirnya akan berakibat timbulnya luka, meliputi luka memar, distorsi sendi dan sebagainya.

 

Koping pada Pasien Penderita Kusta

Biasanya dalam kehidupa sehari-hari, individu mengalami pengalaman mengganggu ekuilibrium kognitif dan efektifnya. Individu dapat mengalami perubahan hubungan dengan orang lain dalam harapannya terhadap diri sendiri dengan cara negatif. Baik pasien maupun anggota keluarga, mengkombinasikan antara koping yang berfokus pada emosi maupun yang berfokus pada masalah dalam menghadapi stressor yang berhubungan dengan penyakit.

Penyakit kusta yang dapat menyababkan kecacatan menyababkan penderita kusta merasa rendah diri,merasa tertekan, takut menghadapi keluarga dan masyarakat karena sikap penerimaan mereka terkadang kurang wajar. Penelitian yang dilakukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara menyatakan bahwa lebih dari 75% penderita kusta di Sumatera Utara mengalami gangguan cirta tubuh (body image). Sementara di Sulawesi Selatan sendiri penelitian yang dilakukan oleh Astuti Ismarasari tahun 2006 menyatakan bahwa pederita kusta mengalami gangguan citra tubuh.

Koping yang dilakuan oleh penderita penyakit kusta yang ditemukan dalam penelitian yang dilakukan Astuti (2006) dalam Nasri (2006) meliputi : 1) pencarian informasi, 2) menyusun ulang prioritas kebutuhan dan peran, 3) menurunkan tingkat harapan, 4) melakukan kompromi, 5) membandingkan dengan orang lain, 5) perencanaan aktifitas untuk menghemat energi, 6) melakukan satu persatu, 7) memahami tubuhnya dan melakukan bicara sendiriuntuk meningkatkan keberanian.

 

Penutup

Dampak sosial akibat penyakit kusta menimbulkan keresahan yang sangat mendalam, tidak hanya bagi pasien akan tetapi juga pada keluarga, masyarakat bahkan negara. Rasa takut berlebihan terhadap penyakit ini masih tetap berakar pada seluruh lapisan masyarakat.oleh karenanya rasa takut yang berlebihan dan prasangka terhadap penyakit ini, ada kecenderungan penderita atau mantan penderita diperlakuakan tidak manusiawi seperti ditolak oleh keluarganya, ditinggalkan oleh suami atau istrinya, dibuang secara paksa, diusir dari perkampungan, dikucilkan atau bahkan dipasung oleh keluarga, ditolak untuk bekerja, dikeluarkan dari sekolah, mendapatkan perlakuan yang kejam, dihina dan biasanya penderita tidak mengeluh bila hal itu terjadi, bahkan cenderung mengikuti perlakuan yang ada.

Berkaitan dengan ini fungsi perawat sebagai konselor diharapkan mampu memberikan dorangan dan motivasi kepada pasien pederita kusta. Perawat diharapkan mampu membuat koping klien yang maladaptif menjadi adaptif, sehingga pasien atau mantan penderita kusta dapat menjalani kehidupan seperti biasanya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI , 2005d. Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Dit. Jen P2 dan PL. Jakarta

Nasri, N. 2006b. Dasar Epidemiologi. Rineka Cipta. Jakarta.

Notoatmodjo,S.b, 1993. Pengantar Pendidikan dan Imu Perilaku Kesehatan. Andi Offset. Yogyakarta.

World Healt Organization. 1999.kusta: alih bahasa, Minica Ester ; editor edisi bahasa Indonesia, Ysmin Asih. Ed. 2 Jakarta : EGC

 

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here